Kamis, 26 November 2015

Membersihkan Pikiran


Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?

Menutupi telapak tangan saja sulit.

Tapi kalau daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi.

Begitu juga bila diri kita ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di mana-mana.Bahkan Bumi ini pun akan tampak buruk.

Jangan pernah menutup mata kita, walau hanya dengan daun yang kecil.

Jangan menutupi diri kita dengan sebuah pikiran buruk, walau hanya seujung kuku.
Bila diri kita tertutup, maka tertutuplah semua.

Air yang banyak di lautan luas yang dalam takkan pernah sanggup menenggelamkan sebuah perahu kecil yang ada di atasnya, kecuali kalau air itu mulai masuk ke dalam perahu.

Demikian juga dengan hidup ini, gosip & segala penilaian negatif akan selalu ada di sekeliling kita.
Namun semuanya itu takkan sanggup menenggelamkan kita, kecuali kita membiarkan semua itu masuk ke dalam pikiran kita.

Menjaga pikiran itu bukanlah tanggung jawab orang lain, melainkan adalah tanggung jawab kita masing-masing.

Kita tidak bisa menyalahkan orang lain untuk setiap masalah yang hadir dalam hidup kita bila kita sendiri tidak bertanggung jawab, karena sudah membiarkan “sampah” masuk & mengotori hidup kita.

Kita harus menyaring apapun yang masuk melalui pikiran kita sebagai pintu gerbangnya. Bila pikiran kita BAIK, maka akan terasa nyaman hidup kita. Jangan lengah!!!

Salam Insprasi-Cintya Pamela

Minggu, 15 November 2015

DOA DAN KASIH PENGAMPUNANNYA

Sahabat-sahabat yang terkasih, antara Simon dan perempuan terdapat perbedaan cara melayani Yesus. Simon memandang Yesus sebagai seorang guru dan melayani Yesus dengan baik (mengundang makan di rumah). Tetapi perempuan yang terkenal berdosa (ayat 37) melayani Yesus dengan air mata dan menyeka kaki Yesus dengan rambut. Inilah pelayanan dengan hati yang meluap dalam tindakan yang luar biasa. Minyak yang mahal dan rambut sebagai symbol kehormatan tidak menjadi penghalang untuk sebuah perjumpaan. Perempuan ini tidak hadir dengan sejuta kata-kata tetapi dengan sejuta makna yang terlihat dari tindakannya. Tindakan perempuan yang menyeka kaki Yesus adalah tindakan merendahkan diri sehingga ia berjumpa dengan pengampunan. Kata-kata saja tidak cukup, tindakanlah yang menjadi unsur pembeda antara Simon dan perempuan yang terkenal berdosa.

Yesus sendiri berbicara kepada Simon tetapi Ia menatap perempuan yang terkenal berdosa (ayat 44). Yesus tidak mengecam Simon tetapi Yesus hendak memperlihatkan perhatian yang besar pada sebuah tindakan yang luar biasa. Pengakuan dosa dalam sebuah tindakan jauh lebih elegan dari pengakuan dosa dalam kata-kata yang mengalir tanpa perubahan. Disinilah letak perbedaan Simon dan perempuan yang terkenal berdosa, Simon tetap memandang perempuan itu dengan masa lalunya sementara Yesus memandang perempuan itu dengan masa depannya. Jadi, lewat kisah ini hendak dikemukakan kepada kita bahwa tindakan pengakuan dosa jauh lebih penting dari sekedar kata-kata. Dalam diam tetapi air mata dan rambut di kepala adalah ekspresi permohonan perempuan yang terkenal karena dosa. Permohonan itu muncul secara luar biasa dalam perilaku yang melayani Yesus sebagai awal perubahan besar dalam hidupnya (ayat 50).

Disini kita semua dapat belajar bahwa sebuah doa tidaklah cukup tetapi patut muncul dalam tindakan. Doa bukanlah sebuah alat untuk mengendalikan Tuhan agar menyesuaikan diri-Nya dengan permintaan kita, tetapi adalah adalah bentuk pengakuan kita atas seluruh karya Tuhan dalam kehidupan. Maka kebiasaan berdoa yang sudah kita miliki patut muncul dalam tindakan yang tidak biasa. Secara luar biasa Allah sudah menjangkau dan menyelamatkan kita maka doa bukan lagi hal biasa tetapi hal yang luar biasa sebab muncul dalam tindakan. Tetaplah berdoa dan setialah mewujdukan doa dalam hidup sehari-hari itulah yang berkenan kepada-Nya.